Find us on Google+ Google

Psikologi Komunikasi

Komunikasi menentukan kualitas hidup manusia
Psikologi Komunikasi
     Dengan komunikasi kita dapat membentuk saling pengertian, menumbuhkan persahabatan, memelihara kasih sayang, menyebarkan ilmu pengetahuan, dan melestarikan peradaban. Begitupun sebaliknya dengan komunikasi kita juga bisa menimbulkan perpecahan, menghidupkan permusuhan, menanamkan kebencian, menghalangi kemajuan, dan menghambat pemikiran. Begitu penting dan begitu akrab komunikasi dengan diri kita sehingga kita terkadang merasa tidak perlu lagi mempelajari komunikasi.     Komunikasi ada dimana-mana. Di rumah misalnya, ketika anggota-anggota keluarga berbincang di meja makan. Di kampus, ketika mahasiswa-mahasiswa mendiskusikan hasil tentamen. Di kantor, ketika pimpinan mengadakan pembagian tugas ke bawahannya. Di mesjid, ketika muballigh berkhotbah. Atau di taman-taman misalnya, ketika seorang pecinta mengungkapkan rindunya. Komunikasi menyentuh segala aspek kehidupan kita. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa 70% waktu bangun kita digunakan untuk berkomunikasi. Komunikasi menentukan kualitas hidup manusia.
     Kualitas hidup kita, hubungan kita dengan sesama manusia dapat ditingkatkan dengan memahami dan memperbaiki komunikasi yang kita lakukan. Kita dapat mempelajari berbagai tinjauan tentang komunikasi, tetapi penghampiran psikologi adalah yang paling menarik. Psikologi menukik ke dalam proses yang mempengaruhi perilaku dalam komunikasi, membuka "topeng-topeng" kita, dan menjawab pertanyaan "mengapa". Psikologi melihat komunikasi sebagai perilaku manusiawi, menarik, dan melibatkan siapa saja dan dimana saja.

Apakah Psikologi Komunikasi Itu ?

     Psikologi komunikasi adalah ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan, dan mengendalikan peristiwa mental dan behavioral dalam komunikasi
     Di California pada tahun 1970, seorang ibu berusia 70 tahun melarikan diri dari rumahnya setelah bertengkar dengan suaminya yang berusia 70 tahun. Ia membawa anaknya, seorang gadis berusia 13 tahun. Mereka datang meminta bantuan pada petugas kesejahteraan sosial. Namun petugas melihat hal yang aneh pada anak gadis yang dibawanya. Perilakunya tidak menunjukkan anak yang normal. Tubuhnya bungkuk, kurus kering, kotor, dan menyedihkan. Sepanjang waktu ia tidak henti-hentinya meludah. Tidak satu saatpun terdengar bicara. Petugas mengira gadis ini telah dianiaya ibunya. Polisi dipanggil, dan kedua orang tuanya harus berurusan dengan pengadilan. Pada saat sidang, ayah gadis itu membunuh dirinya dengan pistol. Ia meninggalkan catatan,"Dunia tidak akan pernah mengerti."
     Mungkin ia benar. Dunia tidak akan mengerti bagaimana mungkin seorang ayah bisa sanagat membenci anaknya. Penyelidikan kemudian mengungkapkan bahwa si anak tersebut, melewati masa kecilnya di neraka yang dibuat oleh ayahnya sendiri. Sejak kecil sianak diikat pada sebuah tempat duduk yang sempit. Sepanjang hari ia tidak dapat menggerakkan tangan dan kakinya. Malam hari ia ditempatkan dalam semacam kurungan dari besi. Sering kali ia kelaparan. Setiap kali si anak menangis, ayahnya memukulinya. Si ayah tidak pernah bicara. Si ibu terlalu buta untuk mengurusnya. Hanya kakak laki-lakinya yang berusaha memberi makan dan minum. Itupun sesuai dengan perintah ayahnya, harus dilakukan diam-diam, tanpa mengeluarkan suara. si anak tidak pernah mendengar orang bercakap-cakap. Kakaknya dan ibunya sering mengobrol dengan berbisik-bisik, karena takut pada ayahnya.
     Ketika Genie (demikian nama samaran anak tersebut) masuk rumah sakit, ia tidak diketahui apakah dapat berbicara atau mengerti pembicaraan orang. Ia membisu. Kepandaiannya tidak berbeda dengan anak yang berusia satu tahun. Dunia mungkin tidak akan pernah mengerti. Tetapi ditemukannya Genie telah mengundang rasa ingin tahu para psikolog, linguis, neurolog, dan mereka yang mempelajari perkembangan otak manusia. Genie adalahcontoh yang langka tentang seorang anak manusia yang sejak kecil hampir tidak pernah memperoleh kesempatan berkomunikasi. Penemuan Genie menarik perhatian. Genie tidak dibekali keterampilan mengungkapkan pikirannya dalam bentuk lambang-lambang yang dipahami orang lain. Apakah kurangnya keterampilan ini menghambat perkembangan mental lainnya? Apakah sel-sel otak mengalami kelambatan pertumbuhan? Apakah seluruh sistem kognitifnyamenjadi lumpuh? Inilah diantara sekian banyak pertanyaan yang menyebabkan Susan Curtis, profesor linguistik di University of California, mencurahkan waktunya selama tujuh tahun untuk meneliti Genie. Genie menjadi penting buat kita untuk menunjukkan dua hal. Pertama, komunikasi amat esensial buat pertumbuhan kepribadian manusia. Ahli-ahli ilmu sosial telah berkali-kali mengungkapkan bahwa kurangnya komunikasi akan menghambat perkembangan kepribadian (Davis, 1940; Wasserman, 1924). Antropolog terkenal, Ashley Montagu (1967: 450) dengan tegas menulis: "The most important agency through which the child learns to be human is communication, verbal also nonverbal." Kedua, komunikasi amat erat kaitannya dengan perilaku dan pengalaman kesadaran manusia. Tidak mengherankan, bahwa komunikasi selalu menarik perhatian peneliti psikologi.
     Dilihat dari sejarah perkembangannya, komunikasi memang dibesarkan oleh para peneliti psikologi. Tiga diantara empat orang Bapak Ilmu Komunikasi  yang disebut Wilbur Schramm (1980: 73-82) adalah sarjana-sarjana psikologi. Kurt Lewin adalah ahli psikologi dinamika kelompok. Ia memperoleh gelar doktornya dalam asuhan Koffka, Kohler, dan Wertheimer, tokoh-tokoh psikologi Gestalt. Paul Lazarsfeld, pendiri ilmu komunikasi lainnya, adalah psikolog yang banyak dipengaruhi Sigmund Freud, bapak psikoanalisis. Carl I. Hovland, yang devinisi komunikasinya banyak dihafal mahsiswa komunikasi di Indonesia, adalah seorang yang dididik dalam psikologi, dan selama hidupnya memilih karir psikologi. Ia pernah menjadi asisten Clark Hull, tokoh psikologi aliran behaviorisme. Menarik sekali bahwa semua aliran besar dalam psikologi diwakili oleh para peletak dasar ilmu komunikasi.
     Walaupun demikian, komunikasi bukan subdisiplin dari psokologi. Sebagai ilmu, komunikasi menembus banyak disiplin ilmu, antara lain sosiologi dan psikologi.

3 comments:

  1. Replies
    1. Trima kasih atas komentar dan kunjungannya sob..

      Delete
  2. is very good article... !!!
    I like it

    ReplyDelete