w3c PsikologiKomunikasigravatar PsikologiKomunikasiCopyrighted.com Registered & Protected 
YJ99-XNEZ-A5VT-AAOC

Kamis, 10 April 2014

Kata-kata dan Makna

Tentang Kata-kata dan Makna
Mungkin anda pernah mendengar pertengkaran antara sopir Sunda dan kernet Jawa. Truk mereka berhenti di tengah jalan, kerena ban roda belakang pecah. Sopir berkata dalam bahasa Sunda, “Cokot Dongkrak”. Kernet tidak mengikuti perintah sopir. Ia tersenyum , “Atos, pak”. Pak Sopir merasa dipermainkan. Sekali lagi ia berteriak, “Cokot dongkrak”. Si kernet dengan serius juga menjawab, “Atos, pak!”. Keduanya bertengkar dan hampir saling memukul. Untunglah mereka kemudian menyadari telah terjadi kesalahpahaman. Kata “Cokot “ dalam bahasa Sunda artinya “ambil”, sedangkan dalam bahasa Jawa artinya “gigit”. Begitupun kata “Atos” dalam bahasa sunda artinya “sudah”, dan kata “atos” dalam bahasa Jawa artinya “keras”. Pertengkaran terjadi karena setiap orang member makna yang berlainan pada satu kata. Kata-kata tidak bermakna; oranglah yang member makna.

Lalu, apa yang disebut makna? Konsep makna telah menarik perhatian komunikasi, psikologi, sosiologi, antropologi, dan linguistik. Selama lebih dari 2000 tahun, kata Fisher (1978: 250), konsep makna telah memukau para filusuf dan sarjana-sarjana sosial. Begitu banyaknya orang mengulas makna, sehingga makna hampir kehilangan maknanya. Banyak di antara penjelasan tentang makna “too vague and speculative” (terlalu kabur dan spekulatif) kata Jerold Katz (1973: 42).

Kata-kata dan Makna
Ada beberapa buku yang mengulas tentang makna, seperti ”The Meaning of Meaning” dan “Understanding Understanding”, tetapi isinya menurut Fisher, lebih sedikit dari apa yang ditawarkan judulnya. Ulasan yang agak mendalam biasanya ditawarkan filsafat. Sejak Plato, Jhon Locke, Wittgenstein, sampai Brodbeck (1963), makna dimaknakan dengan uraian yang lebih sering membingungkan daripada menjelaskan. Mungkin Brodbeck merupakan kekecualian. Ia menjernihkan pembicaraan dengan membagi makna pada tiga corak. perdebatan tidak selesai, seringkali karena orang mengacukan makna ketiga corak makna tersebut.

Makna yang pertama adalah makna inferensial, yakni makna satu kata (lambang) adalah objek, pikiran, gagasan, konsep yang dirujuk oleh kata tersebut. Dalam uraian Ogden dan Richards (1946), proses pemberian makna (reference process) terjadi ketika kita menghubungkan lambang dengan yang ditunjukkan lambang (disebut rujukan atau referensi). Satu lambang dapat menunjukkan banyak rujukan. “Jari-jari” dapat menunjukkan setengah diameter, bagian dari roda sepeda, atau bagian tangan. Atau satu rujukan diwakili oleh berbagai lambang. Kain yang menutup tubuh Anda disebut baju, pakaian, sandang, atau busana. Jalan disebut thariq (Arab), street (Inggris),la rue (Prancis), die Strasse (Jerman), destraat (Belanda), la calle (Spanyol), la strada (Italia), domo arigato (Jepang).


Makna yang kedua menunjukkan arti (significance) suatu istilah sejauh dihubungkan dengan konsep-konsep yang lain. Fisher memberi contoh dengan kata “phlogiston”. Kata ini dahulu dipakai untuk menjelaskan proses pembakaran. Benda menyala karena ada phlogiston. Kini, setelah ditemukan oksigen, phlogiston tidak berarti lagi. Begitu pula instinct dalam psikologi, atau group mind dalam sosiologi. Kata-kata itu menjadi tidak berarti karena penemuan-penemuan baru yang menunjukkan kesalahan konsep yang lama.


Makna yang ketiga adalah makna intensional, yakni makna yang dimaksud oleh seorang pemakai lambang. Makna ini tidak dapat divalidasi secara empiris atau dicarikan rujukannya. Makna ini terdapat pada pikiran orang, hanya dimiliki dirinya saja. Dua makna intensional boleh jadi serupa tetapi tidak sama.


Dari klasifikasi makna Bordbeck (1963), kita sekarang melihat makna secara psikologis. Dalam tilikan psikologis, makna tidak terletak pada kata-kata, tetapi pada pikiran orang, pada persepsinya. Makna terbentuk karena pengalaman individu. Makna diperoleh karena asosiasi antara stimuli asal (unconditioned stimulus) dengan stimuli yang terkondisikan.


Seorang wanita yang memberikan air susu, yang mendekap kita, yang menyanyikan lagu pengantar tidur, yang memeluk kita ketika ketakutan, dihubungkan dengan kata “ibu”. Setiap orang, karena pengalamannya, memiliki asosiasi yang berbeda terhadap kat “ibu”. Bagi anak di panti asuhan, ibu adalah kata yang membangkitkan luka batin.


Hayakawa (1964) menyebutkan adanya dua macam kata: “snarl words” (kata erangan) dan “pur words” (kata eongan). Kita semua menggunakan kata-kata seperti bunyi yang dikeluarkan kucing. Ketika kucing marah,  ia menyeringai, memperlihatkan giginya, mengeluarkan kuku-kukunya, dan siap menyerang. Bunyi itu kita sebut erangan, karena kucing mengerang. Ia mengeong ketika ia mengungkapkan kesenangan atau kenikmatan. Kita mengucapkan kata erangan ketika berteriak, “Bajingan busuk, kau!” Kata-kata yang disebut tidak merujuk pada rujukan tertentu. Kata-kata itu mengungkapkan keberangan, kebencian, dan kejengkelan kita kepada orang di hadapan kita.


Brooks dan Emmert (1976: 109-110) memperluas makna “snart words” dan “pur words” ini. Mereka menyebutkan adanya kata-kata yang dianggap negatif atau positif oleh komunikate tanpa kita sadari. Bila dianggap negatif, kata-kata menimbulkan respons permusuhan seperti kalau kita menggunakan kata-kata erangan. Hal demikian terjadi karena kata-kata tersebut telah memperoleh makna tertentu pada diri komunikate, akibat pengalaman hidupnya. Di Amerika, memanggil “negro” kepada orang kulit hitam akan menyinggung perasaan mereka. “negro” menjadi kata erangan buat mereka. Brooks dan Emmert menyebut kata-kata seperti itu “hidden antagonizers” (musuh tersembunyi), karena menghancurkan komunikasi kita tanpa kita ketahui. Bagaimana kita mengetahui bahwa kata-kata tertentu adalah hidden antagonizers? Tidak ada resep yang baik selain mempertajam kepekaan kita dengan memakai latar belakang pengalaman komunikate, termasuk kelompok etnis, agama, aliran politik, dan sebagainya.


Jadi, karena pengalaman hidup berbeda, orang mempunyai makna masing-masing untuk kata-kata tertentu. Inilah yang telah kita sebut sebagai makna perorangan, tetapi bila semua makna itu bersifat perorangan, tentu tidak terjadi komunikasi. Kita melihat, kita dapat melakukan komunikasi dengan orang lain. Ini berarti ada makna yang dimiliki bersama (shared meaning). Komunikasi sering dihubungkan dengan kata latin “communis” yang artinya “sama”. Komunikasi hanya terjadi bila kita memiliki makna yang sama. Pada gilirannya, makna yang sama hanya terbentuk bila kita memiliki pengalaman yang sama. David K. Berlo (1960: 84) menulis, “People can have similar meaning to the extent that they have had similar experiences, or can anticipate similar experience.” ( Orang-orang memiliki makna yang sama bila mereka mempunyai pengalaman yang sama atau dapat mengantisipasi pengalaman yang sama.)


Kesamaan makna karena kesamaan pengalaman masa lalu atau kesamaan struktur kognitif disebut isomofisme. Isomofisme terjadi bila komunikan-komunikan berasal dari budaya yang sama, status sosial yang sama, pendidikan yang sama, ideologi yang sama. Pendeknya, mempunyai sejumlah maksimal pengalaman yang sama. Pada kenyataannya tidak ada isomorfisme total. Selalu tersisa ada makna perorangan.


Orang-orang dalam kelompok yang sama bahkan sering mengembangkan kata-kata yang dimiliki secara khusus oleh kelompok mereka saja. Di kalangan komunikasi dikenal kata-kata komunikator, komunikan, komunikate, pesan, umpan balik, terpaan media, setala (in tune), dan sebagainya. Orang-orang yang berkecimpung pada bagian obstetric dan ginekologi mempunyai kata-kata tersendiri buat kata-kata yang digunakannya sehari-hari. Mungkin orang-orang OB ( ini juga istilah mereka) memiliki percakapan “ghaib” yang hanya dipahami oleh mereka saja. Contohnya : Ob – bagian kebidanan, positif – meninggal dunia, partus – melahirkan, flou arbus – keputihan, defakasi – buang air besar, rhagade – luka pecah, puerperium – nifas, pelvis – panggul, anamnesa – tanya jawab, pragnosa – ramalan, dan lain sebagainya.


Perkembangan sains dan teknologi modern telah begitu jauh sehingga setiap ilmuwan hidup dalam dunianya sendiri dan tidak dapat berkomunikasi dengan orang lain. Penemuan-penemuan kedokteran  sebetulnya amat bermanfaat bagi setiap orang, tetapi orang awam tidak dapat memahaminya. Namun, lambang-lambang tertentu bukan hanya dikembangkan oleh kelompok profesi, tetapi juga oleh kelompok-kelompok sosial. Remaja mempunyai bahasa “prokem” : doku, bokap, bacut, biu, sableng, teller, dan sebagainya. Aktivitas masjid mengenal istilah khusyu’, iktikaf, jilbab, muhrim, ‘aurat, tadarus, bai’at, daan lain-lain. Walaupun begitu, di antara berbagai kelompok itu kita masih mempunyai isomorfisme. Butinya, kita masih dapat mengobrol dengan berbagai kelompok selama berkaitan dengan lambang-lambang yang dipahami bersama.


Tentu saja, sekali lagi isomorfisme total tidak pernah terjadi. Kita semua menyimpan makna perorangan. Lebih-lebih kalau kita berbicara tentang makna konotatif. Makna konotatif menunjukkan asosiasi emosional yang mempengaruhi reaksi kita terhadap kata-kata. Kata-kata babu, pelayan, pembantu, pramuwisma, mempunyai makna konotatif yang berbeda. Begitu pula kuli, buruh, pegawai, dan karyawan. Demokrasi bermakna konotatif yang baik, tetapi dictator bermakna konotatif yang jelek. Kita sedapat mungkin menghindari kata-kata dengan konotasi negatif dan menggantinya dengan kata-kata lain yang berkonotasi positif. Pejabat melaporkan adanya “daerah rawan pangan”, dan tidak menyebut “daerah kelaparan”. Putra ibu tidak bodoh, ia hanya “lambat belajar”.  Kawan saya tidak pernah menerima uang suap; seperti yang lain, ia hanya menuntut “uang jasa”.


Sebetulnya setiap kata melahirkan konotasi yang berbeda bagi setiap orang, bergantung pada pengalaman hidupnya. Osgood, Suci, dan Tannenbaum (1957) mengembangkan alat untuk mengukur makna konotatif suatu kata dengan teknik yang disebutkannya sebagai semantic differentials.  Makna kita tidak selalu seperti yang tercantum dalam kamus (makna denotative). Kita tahu bahwa kata yang kita ucapkan mungkin diartikan lain oleh komunikate.


Senin, 23 Desember 2013

Bahasa dan Proses Berpikir

Orang Amerika mengatakan “ a clock runs “ ( jam berlari ), orang Indonesia menyebutkan “ waktu berjalan “, orang Spanyol juga mengatakan “ el reloj anda “ ( jam berjalan ). Apakah ini berarti ada perbedaan persepsi tentang waktu ? Apakah ini yang menyebabkan orang-orang Amerika selalu bergegas-gegas dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya sebelum keburu hilang, sedangkan kita ( dan kawan-kawan kita dari Amerika Latin ) memandang hidup lebih santai, sering menangguhkan pekerjaan, karena toh jam hanya berjalan dan tidak berlari ? Untuk mengatakan bahwa waktu yang ditentukan tidak terasa hampir lewat, kita masih berkata, “ waktu berjalan cepat “ ( walaupun cepat, waktu tetap berjalan ); orang Amerika mengatakannya, “ we’re running out of time “. Perhatikan kalimat-kalimat Inggris di bawah ini dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia :

   I broke my legs ( Kaki saya patah )
   O, I burned my finger ( Oh, jariku terbakar )
   I missed the bus ( Saya ketinggalan bis )
   I lost my money ( Uang saya hilang )

Kita melihat dalam kalimat-kalimat Inggris, pelaku adalah diriku sendiri. Kita mengatakan kaki yang patah, mereka menyebutkan mereka yang mematahkan kakinya. Kita mungkin tertawa kalau menerjemahkan  “ I burned my finger “ menjadi “ Saya membakar jariku “. Tetapi begitulaah cara mereka mengungkapkan maksud bahwa jari mereka terbakar. Tidakkah ini berarti bahwa kita cenderung menyalahkan hal-hal di luar diri kita ? Kalau kita terlambat, itu salah bis. Kalau kita tidak hati-hati, bukan kita yang menghilangkan uang, tetapi uang itu yang hilang dari kita. Apakah ini menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang tidak bertanggung jawab ? betulkah tidak adanya “ tenses “ dalam bahasa Indonesia menunjukkan kita tidak mempersepsi faktor waktu seperti persepsi orang-orang Amerika atau Perancis ?
Bahasa dan Proses Berpikir
Bila kita mencoba menjawab pertanyaan di atas, kita sedang menghubungkan bahasa dan berpikir ( atau lebih khusus, bahasa dan persepsi kita tentang realitas sosial ). Menurut salah satu teori ( principle of linguistic relativity ) bahasa menyebabkan kita memandang realitas sosial dengan cara tertentu. Teori ini dikembangkan oleh von Humboldt, Sapir, whorf, dan Cassier. Dari sekian nama itu, Whorf yang tampaknya paling merebut perhatian. Whorf sendiri “ tersandung “ mempelajari linguistik, padahal ia seorang insinyur dan pengusaha. Kini umumnya orang menyebut teori yang menjelaskan hubungan bahasa dengan berpikir ini sebagai teori Whorf ( Whorfian Hyphotesis ). Edward Sapir, guru Bejamin L. Whorf menulis, “ Bahasa adalah pandu realitas sosial. Walaupun bahasa biasanya tidak dianggap sebagai hal yang sangat diminati ilmuwan sosial, bahasa secara kuat mengkondisikan pikiran kita tentang masalah dan proses sosial. Manusia tidak hidup hanya dalam dunia objektif, tidak hanya dalam dunia kegiatan sosial seperti yang biasa dipahaminya, tetapi ia sangat ditentukan oleh bahasa tertentu yang menjadi medium pernyataan bagi masyarakatnya…. Tidak ada dua bahasa yang cukup sama untuk dianggap mewakili kenyataan sosial yang sama. Dunia tempat tinggal berbagai masyarakat, bukan semata-mata dunia yang sama dengan merek yang berbeda. “ ( Mandelbaum, 1949 : 62 ).

Secara singkat teori ini dapat disimpulkan bahwa pandangan kita tentang dunia dibentuk oleh bahasa; dan karena bahasa berbeda, pandangan kita tentang dunia pun berbeda. Secara selektif, kita menyaring data sensori yang masuk seperti yang telah diprogram oleh bahasa yang kita pakai. Dengan begitu, masyarakat yang menggunakan bahasa yang berbeda hidup dalam dunia sensori yang berbeda pula.

Whorf memberi contoh bahasa Eskimo. Dalam bahasa Eskimo ada tiga kata untuk menunjukkan tiga jenis salju yang tidak ada padanannya dalam satu kata Inggris pun. Ini berarti orang Eskimo membedakan tiga jenis salju, yang tidak dapat dibedakan oleh orang Inggris. Bahasa Arab mengenal 6000 nama untuk unta. Orang Hanunoo di Filipina, mempunyai 92 nama untuk “ rice “ dalam bahasa Inggris ( paling sedikit kita mempunyai empat yaitu padi, gabah, beras, nasi ). Anda dapat membayangkan sekian banyak perasaan yang dapat diungkapkan dalam bahasa daerah ( Sunda dan Jawa ), tetapi tidak ada dalam bahasa Indonesia. Orang Sunda mengenal tiga kata kaduhung, hanjakal, handeueul untuk satu kata “ menyesal “ dalam bahasa Indonesia. Menurut Whorf, perbedaan-perbedaan ini menunjukkan cara memandang dunia yang berbeda.

Whorf menjelaskan bahwa kategori gramatikal suatu bahasa menunjukkan kategori kognitif dari pemakai bahasa itu. Kita melakukan persepsi dengan menggunakan kategori kognitif. Kita juga berpikir dengan memakai kategori-kategori ini. Kita memberikan arti kepada apapun yang kita lihat, yang kita dengar, atau yang kita rasa sesuai dengan kategori-kategori yang ada dalam bahasa kita.

Kontroversi tentang teori Whorf masih belum selesai. Teori ini sendiri mengalami modifikasi. Dapat disepakati bahwa bahasa menunjukkan perhatian cultural pemakai bahasa itu. Orang Eskimo hidup di tengah-tengah salju, sehingga mereka mempunyai 30 kata untuk salju. Unta sangat penting bagi orang Arab ( sebelum ditemukan minyak ), sehingga mereka memiliki perbendaharaan kata yang banyak untuk itu. Bahasa dikembangkan sesuai dengan tantangan-tantangan cultural. Tetapi tidak benar orang tidak dapat membedakan beberapa objek persepsi karena tidak ada kata untuk itu. Walaupun bahasa Indonesia hanya mengenal  “dia “, toh kita dapat membedakannya antara “ he “ dan “ she “ di antara kawan-kawan kita. Kita tidak akan memasukkan “ he “ dan “ she “ ke dalam satu kamar ( kecuali bila mereka suami-istri ).

Dalam hubungannya dengan berpikir, konsep-konsep dalam suatu bahasa cenderung menghambat atau mempercepat proses pemikiran tertentu. Ada bahasa yang dengan mudah dapat dipergunakan untuk memikirkan masalah-masalah filsafat, tetapi ada juga bahasa yang sukar dipakai bahkan untuk memecahkan masalah-masalah matematika yang sederhana. Lihat, bagaimana orang sukar menterjemahkan Heidegger, karena ia berpikir dengan struktur dan kata-kata bahasa Jerman.

Kita mungkin dapat berpikir tanpa menggunakan bahasa, bahasa terbukti mempermudah kemampuan belajar dan mengingat, memcahkan persoalan, dan menarik kesimpulan. Bahasa memungkinkan kita menyandi ( code ) peristiwa-peristiwa dan objek-objek dalam bentuk kata-kata. Dengan bahasa, kita mengabstraksikan pengalaman kita, dan yang lebih penting mengkomunikasikannya pada orang lain. “ Pemikiran yang tinggi bergantung pada manipulasi lambang “ kata Morton Hunt ( 1982 : 227 ), “dan walaupun lambang-lambang nonlinguistik seperti matematika dan seni sudah canggih, lambang-lambang itu sempit. Sebaliknya, bahasa merupakan sistem lambang tak terbatas, yang mampu mengungkapkan segala macam pemikiran. Bahasa adalah prasyarat kebudayaan, yang tidak dapat tegak tanpa itu atau dengan sistem lambang yang lain. Dengan bahasa, manusia mengkomunikasikan kebanyakan pemikirannya kepada orang lain dan menerima satu sama lain hidangan pikiran ( food for thought ). Pendeknya, betul kita tidak selalu berpikir dengan kata-kata, tetapi sedikit sekali kita dapat berpikir tanpa kata-kata. “ Morton benar. Tetapi harus juga diingat bahwa kata-kata dapat menghambat proses berpikir. Hal ini terjadi bila ada kebingungan dalam mengartikan kata-kata.

Sabtu, 21 Desember 2013

Bagaimana kita dapat Berbahasa ?

Pertanyaan ini telah mengusik manusia selama berabad-abad. Pada abad ke 13, seorang kaisar Kerajaan Romawi yang suci ( Frederick II ), mengadakan ekxperimen yang menarik. Ia ingin mengetahui apakah bahasa yang akan digunakan oleh anak-anak, bila kepada mereka tidak diajarkan bahasa apa pun pada tahun-tahun pertama kehidupan mereka. Ia memilih beberapa orang bayi dan merawatnya dalam suatu tempat yang khusus. Bayi-bayi itu dipelihara sebagaimana layaknya ( dimandikan, dirawat, dan disusui ). Tetapi tidak seorang pun diperbolehkan berbicara, bersenandung, atau menyanyikan lagu penghantar tidur buat mereka. Penelitian ini tidak membuahkan hasil, karena semua anak meninggal secara misterius, dan eksperimen ini tidak pernah diulang lagi.

Pada permulaan abad ke 19, dari hutan Averyron ditemukan seorang anak liar yang bertahun-tahun diperlihara serigala. Ketika ia ditangkap, ia merangkak dan mengeluarkan suara lolongan seperti anak serigala. Itard ( seorang dokter ), berusaha mengajarkan bahasa manusia kepadanya pada saat ia berusia 12 tahun. Ia tidak berhasil. Victor ( demikian nama anak liar dari Averyron itu ), hanya sanggup mengucapkan beberapa patah kata saja. 


Eksperimen Frederick tidak dapat menjelaskan bagaimana kita berbahasa. Penemuan Victor menunjukkan bahwa bila dipisahkan dari lingkungan manusia, seorang anak tidak memiliki kemampuan bicara. Sebaliknya, kita melihat anak yang dibesarkan pada masyarakat manusia, pada usia 4 tahun sudah dapat berdialog dengan kawan-kawannya dalam bahasa ibunya. Bagaimana anak kita dapat manggunakan bahasa Indonesia, dengan tata bahasa Indonesia, padahal ia lahir ke dunia sebelum dikursus bahasa Indonesia ? Bagaimana ia dapat menangkap arti kata-kata tanpa kamus ? Untuk menjawab pertanyaan ini, psikologi menyajikan dua teori yaitu teori belajar dari behaviorisme dan  teori nativisme dari Noam Chomsky.

Bagaimana kita dapat Berbahasa ?
Menurut teori belajar, anak-anak memperoleh pengetahuan bahasa melalui tiga proses yaitu asosiasi, imitasi, dan peneguhan. Asosiasi berarti melazimkan suatu bunyi dengan obyek tertentu. Imitasi berarti menirukan pengucapan dan struktur kalimat yang didengarnya. Peneguhan dimaksudkan sebagai ungkapan kegembiraan yang dinyatakan ketika anak mengucapkan kata-kata dengan benar. B. F. Skinner ( psikolog dari Hrvard ), menerapkan ketiga prinsip ini ketika ia menjelaskan tiga macam respons yang terjadi pada anak-anak kecil, yang disebutnya sebagai respons mand, respons tact, dan respons echoic. Respons mand dimulai ketika anak-anak mengeluarkan bunyi secara sembarangan. Tiba-tiba sebagian bunyi itu menyebabkan ibu memberikan ganjaran. Misalnya, anak mengeluarkan bunyi “ u-u “, dan orang tuanya menganggapnya sebagai permintaan ( command atau demand ) agar diberi air. Si bayi segera menyaksikan orang tua memberinya minuman yang segar. Sejak saat itu, kalau ia menginginkan minuman segar ia mengucapkan “ u-u “.

Respons tact terjadi bila anak menyentuh obyek, kemudian secara sembarang ia mengucapkan bunyi. Orang tuanya mengira ia menyebutkan satu kata dan memberikan ganjaran. Misalnya, anak menyentuh gelas yang berisi air, lalu secara sembarang ia mengucapkan “ u-u “. Orang tuanya beranggapan bahwa anak itu mengatakan “ minum “. Dan anak itu dipeluk dengan ucapan, “ Oh, mau minum ? Kau pintar, ya. “ Sejak saat itu, anak menggunakan “ u-u “ dalam arti “ minum “.

Respons echoic terjadi ketika anak menirukan ucapan orang tuanya dalam hubungan dengan stimuli tertentu. Misalnya, setiap kali ibu memberikan air hangat, ia mengatakan “ minum “. Anak mencoba menirunya dan mengucapkan “ u-u “. Ibu gembira mendengar ucapan itu, lalu memangkunya, memeluknya, dan mengucapkan kata-kata yang lembut. Inilah yang disebut sebagai upaya imitasi yang dilakukan anak.

Menurut Noam Chomsky, bila anak harus belajar seperti itu, paling tidak diperlukan waktu tiga puluh tahun untuk mampu menguasai 1000 kata saja. Menurutnya, teori belajar hanyalah “ play-acting at sicience “, suatu penjelasan yang sama sekali tidak tepat tetapi dibungkus dengan istilah-istilah yang bernada ilmiah. Pada tahun 1959, Chomsky membabat buku skinner, menimbulkan guncangan baru dalam psikologi dan melahirkan disiplin baru dalam psikologi, yaitu psikolinguistik. Teori behaviorisme, kata Chomsky, tidak dapat menjelaskan fenomena belajar bahasa. Teori ini tidak dapat menjelaskan mengapa anak berhasil membuat kalimat-kalimat yang tidak pernah mereka dengar, atau melahirkan kata-kata baru atau susunan kalimat baru yang tidak pernah diucapkan oleh orang tuanya.

Menurut Chomsky, setiap anak mampu menggunakan suatu bahasa karena adanya pengetahuan bawaan ( preexistent knowledge ) yang telah deprogram secara genetik dalam otak kita. Ia menyebut pengetahuan ini sebagai L.A.D. ( Language Acquisition Device ). L.A.D. tidak mengandung kata, arti, atau gagasan, tetapi hanyalah satu sistem yang memungkinkan manusia menggabungkan komponen-komponen bahasa. Walaupun bentuk luar bahasa di dunia ini ( surface structure ), berbeda-beda, bahasa-bahasa itu mempunyai kesamaan dalam struktur pokok yang mendasarinya. Chomsky menyebutnya linguistik universal. “ Karena anak-anak diperlengkapi dengan kemampuan ini, mereka segera mengenal hubungan di antara bentuk-bentuk yang terdapat dalam tata bahasa struktur dalam yang sudah terdapat pada kepalanya. Hubungan-hubungan tersebut menyebabkan anak secara alamiah mengucapkan kalimat-kalimat yang sesuai dengan peraturan bahasa mereka. Teori nativisme menggambarkan anak memperoleh pengetahuan tentang bahasa tertentu, ketika bahasa yang didengar membangkitkan respons bawaan dari kemampuan berbahasa. “ ( Hunt, 1982 ). Adanya dasar fisiologis dari kemampuan dasar berbahasa dibuktikan dengan penemuan daerah Broca dan daerah Wernicke pada otak manusia. Daerah yang pertama disebut sintaksis, sehingga gangguan atau kerusakan pada daerah ini menyebabkan orang berbicara terpatah-patah dengan susunan kata yang tidak teratur. Kerusakan di daerah Wirnicke menyebabkan orang berbicara lancer tetapi tidak mempunyai arti.

Teori perkembangan mental dari Jean Piaget memperkuat teori Chomsky dengan menunjukkan adanya struktur universal yang menimbulkan pola berpikir yang sama pada tahap-tahap tertentu dalam perkembangan mental anak-anak. Kedua psikolog ini membuktikan bahwa otak manusia bukanlah penerima pengalaman yang pasif, bukan papan tulis kosong, tetapi sebuah organ yang dilengkapi dengan kemampuan kemampuan bawaan.

Dalam sebuah penelitian mengenai anak-anak bisu yang tidak diajari bahasa tanda di Philadelphia, tim peneliti menemukan bahwa anak-anak pada usia 3 atau 4 tahun telah membuat isyarat-isyarat tersendiri yang menghasilkan “ kalimat-kalimat “ ( rangkaian tanda-tanda ). Mereka dapat membedakan antara subjek, predikat, dan objek. Karena rangkaian tanda-tanda itu lahir sendiri, peneliti menyimpulkan bahwa dalam otak anak sudah terdapat prinsip-prinsip berbahasa yang bukan merupakan hasil belajar.
Sampai sekarang kontroversi antara teori nativisme dan teori belajar masih tetap berlangsung. Kita tidak akan memperpanjang pertentangan ini. Cukuplah di sini dikatakan bahwa bahasa merupakan proses interaksi di antara proses biokimiawi, faktor-faktor kematangan, strategi belajar, dan lingkungan sosial ( Blount, 1975 ). Dalam hubungannya dengan komunikasi, kedua teori ini memberikan dasar bagi kita dalam menanamkan kemampuan menyusun pesan linguistik atau konsep-konsep baru pada komunikate.

Kamis, 19 Desember 2013

Pesan Linguistik

Apakah Bahasa itu ?

Ada dua cara untuk mendefinisikan bahasa yaitu definisi fungsional dan defenisi formal. Definisi fungsional melihat bahasa dari segi fungsinya, sehingga bahasa diartikan sebagai “ alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan “ ( socially shared means for expressing ideas ). Kita tekankan “ socially shared “, karena bahasa hanya dapat dipahami bila ada kesepakatan di antara anggota-anggota kelompok sosial untuk menggunakannya. Kata-kata, seperti kita ketahui, diberi arti secara arbitrer ( semaunya ) oleh kelompok kelompok sosial. Tidak ada alasan logis mengapa manusia betina yang baru tumbuh kita sebut “ dara “, dan bagian pohon yang tajam kita sebut “ duri “. Orang perancis menyebut yang pertama “ jeune fille “ dan yang kedua “ epine “.

Definisi formal menyatakan bahasa sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat menurut peraturan tata bahasa ( all the conceivable sentences that could be generated according to the rules of its grammar ). Setiap bahasa mempunyai peraturan bagaimana kata-kata harus disusun dan dirangkaikan supaya memberikan arti. Kalimat dalam bahasa Indonesia yang berbunyi : “ Di mana saya dapat menukar uang ? “ akan disusun dengan tata bahasa bahasa-bahasa yang lain sebagai berikut :

Inggris : Where can I change some money ? ( Di mana dapat saya menukar beberapa uang ? )
Perancis : Ou puis-je change de I’argent ? ( Di mana dapat saya menukar dari itu uang ? )
Jerman : Wo kann ich etwasGeld wechseln ? ( Di mana dapat saya sesuatu uang menukar ? )
Spanyol : Donde puedo cambiar dinero ? ( Di mana dapat menukar uang ? )

Tata bahasa meliputi tiga unsur : fonologi, sintaksis, dan semantik. Menurut George A. Miller ( 1974 : 8 ), untuk mampu menggunakan bahasa tertentu, kita harus menguasai ketiga tahap pengetahuan bahasa di atas, ditambah dua tahap lagi. Pada tahap pertama, kita harus memiliki informasi fonologis tentang bunyi-bunyi dalam bahasa itu. Misalnya, kita harus sanggup membedakan bunyi “th” dalam “the” dengan “th” dalam “think”. Pada tahap kedua, kita harus memiliki pengetahuan sintaksis tentang cara pembentukan kalimat. Misalnya dalam bahasa inggris kita harus tahu menempatkan “to be” pada kalimat-kalimat nominal. Pada tahap ketiga, kita harus mengetahui secara leksikal arti kata atau gabungan kata-kata. Misalnya, kita harus tahu apa arti “take” dan “take into account”. Pada tahap keempat, kita harus memiliki pengetahuan konseptual tentang dunia tempat tinggal kita dan dunia yang kita bicarakan. Dan pada tahap yang kelima, kita harus mempunyai semacam sistem kepercayaan untuk menilai apa yang kita dengar.
Pesan Linguistik
Tiga tahap yang pertama khusus dibicarakan oleh ahli-ahli bahasa. Pada dua tahap terahirlah psikolog menaruh perhatiannya. Psikolinguis menelaah peranan konsep dan kepercayaan dalam menggunakan dan memahami pesan.

Misalnya ada orang yang berkata : “ Saya menemukan buku kuno tentang raja-raja yang dimakan rayap. “ Kalimat ini mempunyai arti ganda. Kalimat ini dapat berarti, saya menemukan buku kuno yang dimakan rayap dan isinya berkenaan dengan raja-raja. Atau ini berarti, saya menemukan buku kuno, isinya menceritakan raja-raja yang dimakan rayap. Dengan fonologi, sintaksis, dan semantic kita tidak dapat menentukan mana arti yang benar.

Tetapi kita dapat segera mengetahui arti yang benar. Tidak mungkin raja-raja dimakan rayap. Dari mana kita tahu ? Dari susunan kata ? Bukan. Dari arti kata-kata ? juga bukan. Kita mengetahuinya dari pengetahuan konseptual yang kita miliki. Walaupun kamus hanya menjelaskan raja sebagai penguasa kerajaan dan rayap sejenis serangga, kita dapat dengan pasti menyimpulkan raja tidak mungkin dimakan rayap. Dalam pikiran kita ada kerangka konseptual yang menolak kejadian itu. Dalam dunia yang pernah kita ketahui tidak ada cerita tentang raja yang dimakan rayap. Raja makan rayap, masih mungkin.

Mungkin saja, kata kawan anda. Ia meyakinkan anda bahwa ada raja-raja yang mati dimakan rayap. Anda mungkin akan menilai ucapan sahabat anda dengan merujuk pada sistem kepercayaan anda. Anda berteriak, “ Aku tidak percaya ! “ Jadi, kerangka konseptual dan sistem kepercayaan menentukan komunikasi linguistik.

Anda boleh jadi menguasai tata bahasa Inggris, mengerti lebih dari 30.000 kata, dan mampu membedakan berbagai bunyi dalam bahasa inggris dengan cermat. Anehnya, anda tidak dapat tertawa enak, ketika dosen anda di ruangan sebuah universitas di Amerika membuat humor. Tidak ada yang lucu. Rekan-rekan mahasiswa Amerika terbahak-bahak. Anda mungkin meragukan kemampuan bahasa Inggris anda. Setelah sekian tahun anda di Amerika, anda teringat lagi dengan homor dosen tersebut. Heran, sekarang anda tertawa. Pada diri anda sekarang sudah terbentuk kerangka konseptual dan sistem kepercayaan yang baru.

Rabu, 18 Desember 2013

Psikologi Pesan

Ada seorang psikolog fisiologis ( psikolog yang mempelajari pengaruh tubuh terhadap perilaku manusia ) yang menemukan hal yang aneh. Pada waktu dirangsang amygdale-nya ( bagian otak pada sistem limbik ) dengan arus listrik 5 miliamper, seorang pasien yang loyo tiba-tiba menjadi agresif. Suaranya berubah dan tubuhnya bergetar marah. Ketika stimulasi listrik diturunkan menjadi 4 miliamper, sikap wanita itu berubah ( ia tersenyum dan menyesali sikap kasar yang baru dilakukannya ). H. E. King ( 1961 ) akhirnya mengetahui bahwa kita dapat menggerakkan orang lain dengan merangsang salah satu bagian otaknya.

Jose Delgado ( 1969 ) kemudian menghabiskan waktunya selama bertahun-tahun untuk mengembangkan alat-alat stimulasi yang dapat merangsang otak. Dengan menggunakan transdermal stimociever yang ditanamkan pada otak pasien, dari jauh Delgado dapat menggerakkan tingkah laku orang ( mengubahnya dari agresif menjadi tenang atau sebaliknya, dari gembira menjadi sedih atau sebaliknya ). Dengan yakin, Delgado berkata : “ Perilaku dan respon mental yang dapat diramalkan dapat didiskusikan dengan manipulasi otak secara langsung. “

Delgado bekerja keras untuk mengidentifikasi daerah pada otak manusia, membuat peta otak, mengembangkan alat-alat elektronis halus ( semua untuk mengendalikan dan menggerakkan manusia ). Padahal setiap manusia sudah dikaruniai kemampuan untuk menggerakkan orang lain dari jarak jauh ( remote control ) tanpa harus menggunakan jarum-jarum elektris atau “ push button radio device “. Betulkah kita semua memiliki alat untuk mengendalikan orang lain ?
Psikologi Pesan
George A. Miller ( professor psikolinguistik dari Rockefeller University ), menjawabnya “ Betul “. Ia menulis, “ Kini ada seperangkat perilaku yang dapat mengendalikan pikiran dan tindakan orang lain secara perkasa. Teknik pengendalian ini dapat menyebabkan anda melakukan sesuatu yang tidak terbayangkan. Anda tidak dapat melakukannya tanpa adanya teknik tersebut. Teknik yang dimaksud itu dapat mengubah pendapat dan keyakinan, dapat digunakan untuk menipu anda, dapat membuat anda gembira dan sedih, dapat memasukkan gagasan-gagasan baru ke dalam kepala anda, dapat membuat anda menginginkan sesuatu yang tidak anda miliki. Anda pun bahkan dapat menggunakannya untuk mengendalikan diri anda sendiri. Teknik ini adalah alat yang luar biasa perkasanya dan dapat digunakan untuk apa saja. “ ( Miller, 1974 : 4 )

Teknik ini tidak diketemukan oleh psikolog, tidak berasal dari pemberian makhluk halus, tidak juga diperoleh secara parapsikologis atau lewat ilmu klinik. Teknik ini telah dimiliki manusia sejak prasejarah. Teknik pengendalian perilaku orang lain ini lazim disebut bahasa. Dengan bahasa, yang merupakan kumpulan kata-kata, anda dapat mengatur perilaku orang lain. Ibu anda dari Amerika dapat anda gerakkan untuk datang ke rumah kontrakan anda di Bandung dengan mengirimkan kata-kata lewat telepon atau surat. Dengan teriakan “ Bapak ! “ seorang anak kecil dapat menggerakkan lelaki besar di seberang jalan untuk mendekatinya. Dengan aba-aba “ maju, jalan “, seorang sersan dapat menggerakkan puluhan tentara menghentakkan kakinya dan berjalan dengan langkah-langkah tegap.

Inilah kekuatan bahasa, kekuatan kata-kata, the power of words. Mungkin, inilah yang membedakan kita dari binatang. Kitab suci Alquran menyebutkan penciptaan manusia dengan mengatakan, “ Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai bicara. “ ( 55 : 2-3 ). Dalam berbicara ( seperti kata orang Arab ), ada sihirnya. Dan berbicara menggunakan bahasa. Bahasa, pada gilirannya adalah pesan dalam bentuk kata-kata dan kalimat; untuk selanjutnya kita sebut sebagai pesan linguistik.

Manusia mengucapkan kata-kata dan kalimat dengan cara-cara tertentu. Setiap cara berkata memberikan maksud tersendiri. Cara-cara ini kita sebut pesan paralinguistik. Tetapi menusia juga menyampaikan pesan dengan cara-cara lain selain bahasa, misalnya dengan isyarat; ini kita sebut pesan ekstralinguistik.